Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Akseptor KB Dalam Penggunaan Alat Kontrasepsi IUD
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan kesehatan ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan yang optimal (UU RI No.29 tahun 2004 : 1).
Paradigma baru Program Keluarga Berencana Nasional adalah untuk mewujudkan keluarga berkualitas tahun 2015. Berdasarkan paradigma baru tersebut, program Keluarga Berencana Nasional mempunyai kontribusi penting dalam upaya meningkatkan kualitas penduduk. Kontribusi program keluarga berencana nasional tersebut dapat dilihat pada pelaksanaan program Making Pregnancy Safer (MPS) yang salah satu pesan kuncinya dalam rencana strategik nasional MPS di Indonesia 2001-2010 adalah bahwa setiap kehamilan harus mewujudkan kehamilan yang diinginkan. Untuk mewujudkan pesan tersebut, keluarga berencana merupakan upaya pelayanan kesehatan preventif yang paling dasar dan utama (Saifudin, 2003 : v).
Berdasarkan rencana strategi Departemen Kesehatan 2005-2009 dijelaskan bahwa gerakan pembangunan berwawasan kesehatan yang telah dicanangkan sejak tahun 1999 merupakan salah satu stretegi pembangunan kesehatan nasional menuju Indonesia sehat 2010, yang kelangsungannya mutlak memerlukan dukungan dan kerjasama lintas sektor.
Berdasarkan data Disduk dan KB Kabupaten .......... (2011) menyebutkan bahwa kepesertaan KB (Current User) sebanyak 192.135 akseptor sedangkan proyeksi Pasangan Usia Subur ( PUS ) sebanyak 243.834 orang. Untuk lebih jelasnya digambarkan dalam tabel berikut ini :
Tabel 1.1 Rekapitulasi Pencapaian Peserta KB
Kabupaten .......... Tahun 2011
No. Metoda Kontrasepsi Jumlah Akseptor Prosentase
1. Metode Jangka Panjang (MJP)
a. IUD 13.279 6,91%
b. MOW 6.801 3,54 %
c. MOP 6.226 3,24 %
d. Implan 11.003 5,74 %
2. Non Metode Jangka Panjang (Non MJP)
a. Suntik 109.584 57,03%
b. Pil 4.502 23,44 %
c. Kondom 188 1,10 %
Jumlah 192.135 100%
Sedangkan data yang didapat dari UPTD Puskesmas .......... menyebutkan bahwa kepesertaan KB (Current User) sebanyak 13.045 akseptor dan proyeksi PUS sebanyak 16.232 orang. Untuk lebih jelasnya digambarkan dalam tabel berikut ini :
Tabel 1.2 Rekapitulasi Pencapaian Peserta KB
UPTD Puskesmas .......... Tahun 2011
No. Metoda Kontrasepsi Jumlah Akseptor Prosentase
1. Metode Jangka Panjang (MJP)
a. IUD 137 1,05 %
b. MOW 730 5,6 %
c. MOP 601 4,61 %
d. Implan 433 3,32 %
2. Non Metode Jangka Panjang (Non MJP)
a. Suntik 7.845 60,1 %
b. Pil 3.247 24,9 %
c. Kondom 52 0,4 %
Jumlah 13.045 100 %
Berdasarkan data tersebut menunjukkan masih rendahnya pencapaian akseptor KB Metode Jangka Panjang (MJP) yaitu sebesar 19,43 % di Kabupaten .......... dan 14,6 % di UPTD Puskesmas .........., sedangkan target MJP sebesar 60 % dari seluruh akseptor.
Data tersebut juga menunjukkan masih rendahnya pencapaian akseptor KB IUD yaitu sebesar 6,91 % di Kabupaten .......... dan 1,05 % di UPTD Puskesmas ...........
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalahnya adalah belum diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan akseptor KB dalam penggunaan alat kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD) di UPTD Puskesmas .......... Tahun 2011.
1.3 Ruang lingkup Penelitian
Ruang lingkup dalam penelitian ini meliputi faktor umur, pendidikan, paritas dan akseptor KB dalam penggunaan alat kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD) di UPTD Puskesmas .......... Tahun 2011.
1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan akseptor KB dalam penggunaan alat kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD) di UPTD Puskesmas .......... tahun 2011.
1.4.2 Tujuan Khusus
1.4.2.1 Untuk mengetahui informasi atau gambaran faktor-faktor yang berhubungan dengan akseptor KB dalam penggunaan alat kontrasepsi berdasarkan umur ibu, pendidikan, paritas di UPTD Puskesmas .......... tahun 2011.
1.4.2.2 Untuk mengetahui informasi atau gambaran akseptor KB dalam penggunaan alat kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD) di UPTD Puskesmas .......... tahun 2011.
1.4.2.3 Untuk mengetahui hubungan umur, pendidikan, dan paritas akseptor KB dalam penggunaan alat kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD) di UPTD Puskemas .......... tahun 2011.
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Bagi Peneliti
Sebagai sarana untuk mendapatkan wawasan dan pengetahuan tentang alat kontrasepsi jenis IUD dan memberikan pengalaman dalam menerapkan ilmu yang telah di dapat ke dalam kondisi nyata di lapangan.
1.5.2 Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan bermanfaat dan sebagai bahan perbandingan bagi penelitian selanjutnya.
1.5.3 Bagi Institusi UPTD Puskesmas ..........
Diharapkan bermanfaat dan sebagai bahan masukan dan informasi untuk membantu mengendalikan laju pertumbuhan penduduk.
Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.165
untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
Faktor-faktor Internal Yang Berhubungan dengan Kesulitan Belajar Mahasiswa
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara–cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan. Aktivitas belajar tersebut bersifat kompleks karena merupakan suatu proses yang dipengaruhi oleh banyak faktor dan meliputi berbagai aspek baik yang bersumber dari dalam diri maupun dari luar diri manusia (Hamalik,1990:21).
Aktivitas belajar bagi setiap individu tidak selamanya berlangsung wajar, kadang dapat lancar, kadang – kadang tidak, kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang terasa sulit. Kenyataan ini sering dijumpai pada setiap mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari. Setiap individu tidaklah sama. Hal ini yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar dikalangan mahasiswa. Suatu kondisi proses belajar yang ditandai dengan adanya hambatan- hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar disebut dengan kesulitan belajar (Ahmadi dan Widodo, 1991:88).
Kesulitan belajar terdiri dari beberapa kategori. Menurut Soekamto dan Udin SW (1997:38), seorang mahasiswa tentu mempunyai IQ di atas rata-rata. Berdasar asumsi tersebut maka kesulitan belajar yang terjadi pada mahasiswa termasuk dalam "under achiever" yaitu prestasi rendah atau kurang. Mahasiswa tersebut memiliki IQ tinggi tetapi prestasi belajarnya rendah atau tidak dapat mencapai yang semestinya (berdasar tingkat kemampuannya). Sedangkan kelompok mahasiswa yang mengalami kesulitan belajar tersebut disebut sebagai "lower group" yaitu kelompok yang mempunyai prestasi di bawah rata-rata (Makmun, 2000: 308).
Dari berbagai sumber informasi dapat diketahui bahwa suatu kelompok siswa atau mahasiswa yang berdistribusi normal dapat diperkirakan adanya sejumlah kasus kesulitan belajar sekitar 10%- 25% dari keseluruhan populasi tersebut (Makmun, 2000 : 312).
Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan faktor intelegensi, tetapi dapat juga karena faktor non intelegensi. IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan dalam belajar (Ahmadi dan Widodo, 1991:74). Faktor-faktor kesulitan belajar dapat berasal dari dalam diri mahasiswa sendiri seperti motivasi yang kurang, kebiasaan belajar kurang efektif dan kecakapan mengikuti kuliah kurang. Faktor lain berasal dari sekolah, yaitu karena faktor guru, bahan bacaan, kurikulum, kondisi gedung dan alat pelajaran. Keluarga juga merupakan faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar, yaitu perhatian orangtua, suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi. Faktor masyarakat seperti teman bergaul, aktivitas di masyarakat dan lingkungan tetangga juga mempengaruhi kesulitan belajar.
Kesulitan belajar merupakan suatu kondisi proses belajar yang ditandai dengan adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Kesulitan belajar ini sering terjadi pada mahasiswa tetapi sering pula tidak disadari oleh mahasiswa. Hal ini dapat berakibat terjadinya kegagalan dalam menempuh studinya. Kegagalan yang terjadi berulangkali akan menimbulkan kejengkelan, kemarahan, kemalasan, kebosanan dan bahkan kebencian yang akhirnya mahasiswa tersebut terpaksa meninggalkan bangku kuliahnya dengan segala macam kerugian baik mental biaya atau seluruh hidupnya (Hamalik,1990:127).
Upaya memperbaiki cara belajar sangat diperlukan untuk menghindari kegagalan dalam belajar. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengenal sedini mungkin jenis kesulitan belajar dan mencari sumber penyebab utama dan penyerta yang menimbulkan kesulitan belajar (Ahmadi dan Widodo S, 1991:91).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sudaryani (2002) dari 60 mahasiswa semester IV terdapat 24 (46%) mahasiswa dengan indeks prestasi di bawah rata-rata kelompok. Mahasiswa semester II dari 57 mahasiswa terdapat 29 (49%) mahasiswa dengan indeks prestasi di bawah rata-rata kelompok. Dengan demikian diperkirakan terdapat 46% mahasiswa semester IV dan 49% mahasiswa semester II yang mengalami kesulitan belajar. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa faktor kebiasaan belajar dan kecakapan mengikuti kuliah berpengaruh signifikan terhadap kesulitan belajar mahasiswa.
Berdasarkan hasil rekapitulasi nilai Praktek Klinik Kebidanan (PKK) I di STIKes YPIB .......... D III Kebidanan Semester IV Tingkat II tahun 2007-2009 terdapat 58 (100%) dengan nilai baik. Sementara pada tahun 2008-2009 terdapat 15 (14,56%) mahasiswa dari 103 mahasiswa dengan nilai PKK I di bawah rata-rata kelompok (73,68). Nilai tertinggi PKK I pada tahun 2008-2009 yaitu 80,5 sedangkan nilai terendahnya yaitu 60. Pengambilan nilai PKK I diperoleh dari nilai ujian praktek (50%), lahan praktek (20%), asuhan kebidanan (20%) dan absensi (10%). Dengan demikian diperkiraan masih terdapat 14,56% mahasiswa mengalami kesulitan belajar PKK I.
Berdasarkan data hasil evaluasi belajar mahasiswa dan akibat yang dapat ditimbulkan, maka peneliti tertarik untuk meneliti “Faktor-faktor Internal yang Berhubungan dengan Kesulitan Belajar Mahasiswa dalam PKK I Semester IV Tingkat II di Program Studi D III Kebidanan YPIB .......... Tahun 2010”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka yang menjadi rumusan masalahnya adalah “Belum diketahuinya faktor-faktor internal yang berhubungan dengan kesulitan belajar mahasiswa dalam PKK I Semester IV Tingkat II di Program Studi D III Kebidanan YPIB .......... periode April-Juni Tahun 2010”.
Sehingga yang menjadi pertanyaan dalam penelitian ini adalah “Faktor-faktor internal apakah yang berhubungan dengan kesulitan belajar mahasiswa dalam PKK I Semester IV Tingkat II di Program Studi D III Kebidanan YPIB .......... periode April-Juni Tahun 2010?”
1.3 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini tentang faktor-faktor internal yang berhubungan dengan kesulitan belajar mahasiswa dalam PKK I di Program Studi D III Kebidanan YPIB .......... Tahun 2010. Penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu variabel bebas (motivasi belajar, kebiasaan belajar dan kecakapan mengikuti kuliah) dan variabel terikat (kesulitan belajar mahasiswa dalam PKK I). Populasi penelitian adalah seluruh mahasiswa Semester IV Tingkat II dengan jumlah 131 mahasiswa. Penelitian dilakukan di Program Studi D III Kebidanan YPIB .......... Tahun 2010 dan dilakukan bulan April-Juni 2010.
1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor internal yang berhubungan dengan kesulitan belajar mahasiswa dalam PKK I Semester IV Tingkat II di Program Studi D III Kebidanan YPIB .......... periode April-Juni Tahun 2010.
1.4.2 Tujuan khusus
1.4.2.1 Diketahuinya gambaran kesulitan belajar mahasiswa dalam PKK I Semester IV di Program Studi D III Kebidanan YPIB .......... periode April-Juni Tahun 2010.
1.4.2.2 Diketahuinya gambaran motivasi belajar dalam PKK I Semester IV di Program Studi D III Kebidanan YPIB .......... periode April-Juni Tahun 2010.
1.4.2.3 Diketahuinya gambaran kebiasaan belajar dalam PKK I Semester IV di Program Studi D III Kebidanan YPIB .......... periode April-Juni Tahun 2010.
1.4.2.4 Diketahuinya gambaran kecakapan mengikuti kuliah dalam PKK I Semester IV di Program Studi D III Kebidanan YPIB .......... periode April-Juni Tahun 2010.
1.4.2.5 Diketahuinya hubungan antara motivasi belajar dengan kesulitan belajar mahasiswa dalam PKK I Semester IV Tingkat II di Program Studi D III Kebidanan YPIB .......... periode April-Juni Tahun 2010.
1.4.2.6 Diketahuinya hubungan antara kebiasaan belajar dengan kesulitan belajar mahasiswa dalam PKK I Semester IV Tingkat II di Program Studi D III Kebidanan YPIB .......... periode April-Juni Tahun 2010.
1.4.2.7 Diketahuinya hubungan antara kecakapan mengikuti kuliah dengan kesulitan belajar mahasiswa dalam PKK I Semester IV Tingkat II di Program Studi D III Kebidanan YPIB .......... periode April-Juni Tahun 2010.
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Bagi Institusi Pendidikan
Dapat bermanfaat sebagai referensi di perpustakaan dalam rangka menambah informasi dan wawasan khususnya tentang faktor-faktor internal yang berhubungan dengan kesulitan belajar mahasiswa dalam PKK I Semester IV Tingkat II di Program Studi D III Kebidanan.
1.5.2 Bagi Mahasiswa
Dapat memperoleh informasi mengenai kesulitan belajar mahasiswa, sehingga mahasiswa dapat mencegah faktor-faktor yang dapat menimbulkan kegagalan belajar.
1.5.3 Bagi Peneliti
Dapat menambah wawasan pola pikir serta pengalaman dan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan kajian untuk penelitian selanjutnya.
Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.164
untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
Analisis yang Berhubungan Dengan Perilaku Merokok Pada Remaja
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan kesehatan pada dasarnya adalah mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal tersebut dibutuhkan peran pemerintah, swasta dan masyarakat.
Derajat kesehatan menurut Blum dalam Notoatmodjo (2007:11) ada 4 faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat yaitu lingkungan (45%), perilaku (30%), pelayanan kesehatan (20%) dan faktor keturunan (5%).
Perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar. Perilaku kesehatan adalah usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha penyembuhan bilamana sakit (Notoatmodjo, 2007:135-136).
Perilaku hidup sehat menurut Becker dalam Notoatmodjo (2007:137) merupakan perilaku-perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya yaitu makan dengan menu seimbang, olahraga teratur, tidak merokok, tidak minum minuman keras dan narkoba, istirahat yang cukup, mengendalikan stres, dan perilaku atau gaya hidup lain yang positif bagi kesehatan.
WHO menyebutkan dalam Aditama (2003:24), di negara berkembang jumlah perokoknya 800 juta orang, hampir tiga kali lipat negara maju. Setiap tahun ada 4 juta orang yang meninggal akibat kebiasaan merokok dan tidak kurang dari 700 juta anak-anak terpapar asap rokok dan menjadi perokok pasif. Kalau tidak ada penanganan memadai, maka di tahun 2030 akan ada 10 juta kematian akibat merokok dan sekitar 770 juta anak yang menjadi perokok pasif dalam setiap tahunnya.
Penelitian yang dilakukan di Amerika pada tahun 1998 menyatakan bahwa lebih dari 4 miliar remaja adalah perokok, dimana konsumsi rokok paling banyak adalah murid high school (Siquera, dkk., 2001:2).
Menurut Tandra (2003:3) tingginya kecenderungan merokok di kalangan generasi muda di Indonesia cukup memprihatinkan. Penelitian yang dilakukan oleh Global Youth Tobacco Survey (GYTS) pada tahun 2001 pada data BPS 2001, sebahagian besar perokok mulai merokok ketika mereka masih anak-anak atau remaja. Sebanyak 58,93% perokok mulai merokok pada usia 15-19 tahun dan 9,46% pada usia 10-14 tahun. Hasil dari penelitian ini yang paling mengkhawatirkan didapatkan usia terendah mulai merokok adalah usia 5 tahun. Usia 15-19 tahun di Indonesia pada umumnya adalah usia siswa SMA.
Yayasan Kanker Indonesia (YKI) dalam Sirait, dkk. (2001:1) menemukan 27,1% dari 1961 responden pelajar pria SMA/SMK. Sudah mulai atau bahkan terbiasa merokok, umumnya siswa kelas satu menghisap satu sampai empat batang perhari, sementara siswa kelas tiga mengkonsumsi rokok lebih dari sepuluh batang perhari.
Perilaku merokok pada remaja umumnya semakin lama akan semakin meningkat sesuai dengan tahap perkembangannya yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas merokok dan sering mengakibatkan mereka mengalami ketergantungan nikotin.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai analisis yang berhubungan dengan perilaku merokok pada remaja di SMAN 1 .......... Kabupaten ...........
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka masalahnya adalah “Belum diketahuinya analisis yang berhubungan dengan perilaku merokok pada remaja di SMAN 1 .......... Kabupaten .......... tahun 2010”.
1.3 Ruang Lingkup
Perilaku merokok pada remaja pada penelitian ini dibatasi hanya faktor pengetahuan, sikap, peran orang tua dan informasi media. Penelitian ini terdiri dari dua variabel penelitian yaitu variabel bebas (pengetahuan, sikap, peran orang tua dan informasi media) dan variabel terikat (perilaku merokok pada remaja). Subjek penelitian ini adalah seluruh remaja yang ada di SMAN 1 .......... Kabupaten .......... tahun 2010 sebanyak 536 siswa. Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dengan cara wawancara. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional.
1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan Umum
Diketahuinya analisis yang berhubungan dengan perilaku merokok pada remaja di SMAN 1 .......... Kabupaten .......... tahun 2010.
1.4.2 Tujuan Khusus
1.4.2.1 Diketahuinya gambaran perilaku merokok di SMAN 1 .......... Kabupaten .......... tahun 2010.
1.4.2.2 Diketahuinya gambaran pengetahuan remaja di SMAN 1 .......... Kabupaten .......... tahun 2010.
1.4.2.3 Diketahuinya gambaran sikap remaja di SMAN 1 .......... Kabupaten .......... tahun 2010.
1.4.2.4 Diketahuinya gambaran peran orang tua remaja di SMAN 1 .......... Kabupaten .......... tahun 2010.
1.4.2.5 Diketahuinya gambaran informasi media di SMAN 1 .......... Kabupaten .......... tahun 2010.
1.4.2.6 Diketahuinya hubungan pengetahuan dengan perilaku merokok pada remaja di SMAN 1 .......... Kabupaten .......... tahun 2010.
1.4.2.7 Diketahuinya hubungan sikap dengan perilaku merokok pada remaja di SMAN 1 .......... Kabupaten .......... tahun 2010.
1.4.2.8 Diketahuinya hubungan peran orang tua dengan perilaku merokok pada remaja di SMAN 1 .......... Kabupaten .......... tahun 2010.
1.4.2.8 Diketahuinya hubungan informasi media dengan perilaku merokok pada remaja di SMAN 1 .......... Kabupaten .......... tahun 2010.
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai salah satu dokumentasi di perpustakaan yang ada di institusi pendidikan dalam rangka menambah pengetahuan bagi mahasiswa kebidanan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku merokok pada remaja sehingga dapat memberikan informasi mengenai bahaya merokok bagi masyarakat secara luas.
1.5.2 Bagi Masyarakat
Penelitian ini diharapkan menjadi statement point bagi para orang tua untuk lebih meningkatkan pendidikan dan pengawasan pada anak sehingga dapat menyikapi perilaku merokok sebagai perilaku yang akan merugikan kehidupan bagi anaknya di masa yang akan datang.
1.5.3 Bagi Peneliti
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan kajian untuk penelitian yang akan datang dengan metoda dan objek yang berbeda sehingga dapat menghasilan kesimpulan yang lebih akurat.
Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.163
untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
Analisis Cakupan Penimbangan Balita di Posyandu
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah gizi pada hakikatnya adalah masalah kesehatan masyarakat yang penanggulangan tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja. Gangguan gizi yang terjadi pada balita mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan baik pada masa balita maupun masa berikutnya, sehingga perlu mendapatkan perhatian {Supariasa, 2002).
Menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 1457/ MENKES/ SK/X/2003 tentang standar pelayanan minimal bidang kesehatan di sebutkan bahwa pemantauan pertumbuhan merupakan salah satu dari kewenangan wajib yang harus dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota.
Kegiatan Pemantauan Pertumbuhan Balita dapat dilihat dengan menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS) balita, dimana balita yang sehat tiap bulan naik berat badannya. Untuk mengetahui keadaan balita sehat, maka perlu ditimbang setiap bulannya di Posyandu atau tempat pelayanan kesehatan lainnya (Soetjiningsih, 1995)
Tahun 2008 di Jawa Barat, cakupan B/S belum memenuhi target yaitu 78,3% dari target 80% dan tahun 2008 di Indonesia, cakupan D/S 71,0% dari yang ditargetkan 80% (http://www.penimbangan.net).
Di Kabupaten ............. tahun 2007, hasil penimbangan balita dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 1.1
Cakupan Penimbangan Balita Per Puskesmas di
Kabupaten ............. Tahun 2007
No Puskesmas Jumlah Balita Ditimbang D/S Target
1 3.065 2.078 60.27 80%
2 2.201 1.606 73.45 80%
3 3.292 2.910 88.99 80%
4 4.292 2.847 66.79 80%
5 2.884 2.279 79.56 80%
6 5.129 3.812 73.52 80%
7 3.158 2.908 66.89 80%
8 7.903 6.028 76.79 80%
9 2.866 2.866 62.49 80%
10 1.955 1.427 73.50 80%
11 4.041 3.280 81.72 80%
12 3.388 2.015 59.89 80%
13 3.924 2.793 71.66 80%
14 2.204 1.301 59.42 80%
15 1.081 1.052 58.79 80%
16 5.020 4.671 93.69 80%
17 5.485 3.270 60.03 80%
18 5.428 4.118 76.37 80%
19 4.256 3.294 77.91 80%
20 2.972 2.601 88.11 80%
21 3.076 1.937 63.41 80%
22 4.234 1.230 62.77 80%
23 2.667 1.980 74.70 80%
24 3.804 2.119 55.70 80%
25 2.758 1.933 70.54 80%
26 2.562 1.954 76.78 80%
27 2.368 1.900 80.77 80%
28 5.139 3.542 83.74 80%
29 3.759 3.127 83.74 80%
Jumlah 105.749 76.409 72.26 80%
(Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kabupaten ............., 2008)
Berdasarkan tabel di atas, cakupan penimbangan balita di Kabupaten ............. belum memenuhi target. Hal ini dapat dilihat dari hasil pencapaian cakupan penimbangan balita sebesar 72.26% dari yang ditargetkan 80%. Dari 29 Puskesmas di ............., UPTD Puskesmas ............. merupakan Puskesmas yang pencapaian cakupan penimbangan balita paling kecil yakni 55.70 dari target 80%.
Sedangkan di UPTD Puskesmas ............. tahun 2007, hasil penimbangan balita dapat dilihat dari tabel berikut ini :
Tabel 1.2
Cakupan Penimbangan Balita Per Desa di Wilayah Kerja
UPTD Puskesmas .............
No Puskesmas Jumlah Balita Ditimbang D/S Target
1 346 195 56.52 80%
2 365 229 60.58 80%
3 380 228 61.95 80%
4 393 197 54.12 80%
5 355 175 49.43 80%
6 344 166 54.07 80%
7 141 89 63.74 80%
8 211 142 65.74 80%
9 104 83 62.40 80%
10 168 101 53.15 80%
11 343 200 57.30 80%
12 201 140 69.03 80%
13 224 165 62.03 80%
Jumlah 3.804 2.119 55.70 80%
(Sumber : Profil UPTD Puskesmas ............., 2008)
Berdasarkan tabel di atas, cakupan D/S di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............. belum memenuhi target. Hal ini dapat dilihat dari pencapaian cakupan penimbangan balita sebesar 55.70% dari target 80%. Berdasarkan studi pendahuluan, rendahnya cakupan D/S di objek penelitian antara lain disebabkan beberapa factor yaitu masih rendahnya pendidikan ibu, pengetahuan ibu, keaktifan kader, dan penyuluhan tenaga kesehatan.
Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Analisis Cakupan Penimbangan Balita di Posyandu Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ............. Tahun 2009”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya adalah belum diketahuinya analisa cakupan penimbangan balita di Posyandu UPTD Puskesmas ............. tahun 2009.
1.3 Ruang Lingkup Penetitian
Ruang lingkup penelitian ini adatah variabel bebas dan variabel terikat. Dalam penelitian ini variahel bebasnya pendidikan ibu, Pengetahuan ibu, keaktifan kader dan penyuluhan tenaga kesehatam. Sedangkan variabel terikatnya cakupan penimbangan batita dan Posyandu. Subjek penelitian ini adalah seluruh balita yang ada di Posyandu di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............. tahun 2009 yang berjumlah 66 balita, penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juli-September 2009 di UPTD Puskesmas ............. Kabupaten .............. Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dengan cara melakukan wawancara dan kuesioner. Metode penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan Cross Sectional.
1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui analisa cakupan penimbangan balita di Posyandu di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............. tahun 2009.
1.4.2 Tujuan Khusus
1.4.2.1 Diketahuinya gambaran cakupan penimbangan balita di Posyandu UPTD Puskesmas ............. tahun 2009.
1.4.2.2 Diketahuinya gambaran pendidikan tentang penimbangan balita di Posyandu UPTD Puskesmas ............. tahun 2009.
1.4.2.3 Diketahuinya gambaran pengetahuan tentang penimbangan balita di Posyandu UPTD Puskesmas ............. tahun 2009.
1.4.2.4 Diketahuinya gambaran keaktifan kader tentang penimbangan balita di Posyandu UPTD Puskesmas ............. tahun 2009.
1.4.2.5 Diketahuinya gambaran penyuluhan tenaga kesehatan di Posyandu UPTD Puskesrnas ............. tahun 2009.
1.4.2.6 Diketahuinya hubungan pendidikan dengan penimbangan balita di Posyandu di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............. tahun 2009.
1.4.2.7 Diketahuinya hubungan pengetahuan dengan penimbangan balita di Posyandu di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............. tahun 2009.
1.4.2.8 Diketahuinya hubungan keaktifan kader dengan penimbangan balita di Posyandu di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............. tahun 2009.
1.4.2.9 Diketahuinya hubungan penyuluhan tenaga kesehatan dengan penimbangan balita di Posyandu wilayah kerja UPTD Puskesmas ............. tahun 2009.
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi peneliti terutama untuk menambah wawasan dalam hal mengetahui analisa cakupan penimbangan balita di Posyandu serta menjadi suatu kesempatan yang berharga bagi peneliti untuk dapat mengaplikasikan ilmu-ilmu yang telah diperoleh selama masih kuliah.
1.5.2 Bagi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai dokumentasi pada perpustakaan Program Studi D III Kebidanan STIKes YPIB ............., serta dapat dikembangkan lebih luas dalam penelitian selanjutnya.
1.5.3 Bagi Puskesmas
Diharapkan dapat memberikan informasi secara objektif tentang aoalisa cakupan penimbangan balita di Posyandu, sehingga menjadi pedoman dalam meningkatkan kualitas posyandu serta meningkatkan pemanfaatan posyandu oleh masyarakat yang di dukung oleh kualitas tenaga kesehatan.
1.5.4 Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan dan informasi untuk meningkatkan cakupan penimbangan balita di Posyandu dalam rangka meningkatkan cakupan penimbangan balita.
Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.162
untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi Hepatitis B Terhadap Cakupan Imunisasi Hepatitis B Pertama Pada Bayi 0 – 7 hr
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sebagai upaya pencegahan penularan hepatitis B secara vertikal dari ibu ke bayi maka pemberian imunisasi hepatitis B pertama sedini mungkin yaitu usia 0 – 7 hari (World Health Organizations, 2001).
Negara Indonesia merupakan negara dengan tingkat prevalensi hepatitis B 2,5 % - 25 %. Persentase tersebut diambil dari persentase terendah dan tertinggi yaitu dari populasi umum 5 % - 20 %, kalangan donor darah 2,5 % - 25 %, dan dikalangan wanita hamil 3,6 % - 8,7 % (Depkes RI, 2001).
Imunisasi hepatitis B sedini mungkin setelah lahir, mengingat sekitar 33 % ibu melahirkan di negara berkembang adalah pengidap HBsAg (Hepatitis B serum Antigent) positif dengan perkiraan transmisi maternal 40 % (Ikatan Dokter Anak Indonesia, 1999).
Pemberian imunisasi hepatitis B kepada bayi sedini mungkin menjadi prioritas program imunisasi hepatitis B. hal ini akan memberikan perlindungan segera bagi bayi tersebut dari infeksi yang sudah terjadi (melalui penularan perinatal) berkembang menjadi kronis (Bambang Heryanto, 2002.http://www.litbang.depkes.go.id/data.php).
Imunisasi hepatitis B cukup efektif untuk mencegah penyakit hepatitis B dan juga untuk mencegah kanker hati. Vaksin ini memberikan daya lindung yang sangat tinggi (> 96 %) terhadap penyakit hepatitis B, sebagaimana telah terbukti pada berbagai percobaan klinis dari jutaan pemakainya. Bila jadwal vaksin telah dijalani selengkapnya, maka daya lindungnya akan bertahan lebih kurang selama 5 tahun, setelah itu dapat diberikan tambahan imunisasi untuk memperpanjang daya lindungnya.
Target Universal Child Immunization (UCI) dalam cakupan untuk imunisasi untuk BCG, DPT, Polio, Campak, dan Hepatitis B harus mencapai 80 %, baik di tingkat nasional, propinsi, dan kabupaten bahkan disetiap desa. (Satgas Imunisasi-IDAI, 2005). Target imunisasi bayi di Indonesia adalah 4.723.611 dengan hasil cakupan 1.481.050 bayi mendapat imunisasi Hepatitis B, jadi cakupan bayi adalah 31,4 %. (Ditjen. PPM-PL.Depkes Rl, 2006). Target imunisasi bayi di Jawa Barat adalah 883.003 bayi dengan hasil cakupan 221.058 bayi, jadi persentase cakupan bayi adalah 25 % (Dinkes Jawa Barat, 2003).
Jumlah bayi di Kabupaten Garut pada tahun 2008 adalah 35.075 bayi, dengan hasil cakupan hepatitis B 0 – 7 hari sebesar 1.35 1 bayi atau 3,9 %. Di Puskesmas Citeras pada tahun 2008 target imunisasi hepatitis B pertama (0 – 7 hari) adalah 1.349 dan hasil cakupan 838 bayi mendapat imunisasi hepatitis B atau 62,1 %. Sedangkan target cakupan imunisasi di Kabupaten Garut dan Puskesmas Citeras adalah 80 %.
Tabel 1.1 Cakupan Imunisasi Hepatitis B 0 -7 hari per Desa
Di Wilayah Kerja Puskesmas Citeras Tahun 2008
No Desa Target Cakupan Persentase
1 Citeras 93 79 84,4
2 Cihaurkuning 151 68 45,0
3 Cibunar 160 81 50,6
4 Sukaratu 115 82 71,3
5 Sukarasa 112 73 65,2
6 Karangmulya 73 65 89,0
7 Lewo baru 90 75 83,3
8 Kutanagara 116 71 61,2
9 Sanding 179 76 42,5
10 Sukajaya 87 55 63,2
11 Bunisari 80 56 70,0
12 Mekarmulya 93 57 61,3
Faktor-faktor yang mempengaruhi cakupan imunisasi : 1) Perilaku, merupakan respon atau reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya; 2) Sikap, merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek, sikap tidak dapat langsung dilihat tetapi dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup; 3) Pengetahuan adalah penggunaan pikiran dan penalaran logika serta bahasa yang merupakan suatu hasil tahu yang terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan suatu objek tertentu (Penelitian Muhammad Ali, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, 2003).
Pengetahuan merupakan suatu hasil yang terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan sesuatu objek tertentu melalui indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan dan perabaan. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui proses melihat, mendengar selain itu melalui pengalaman dan proses belajar dalam pendidikan formal dan non formal (Notoatmodjo, 2003). Sehingga pengetahuan tentang imunisasi hepatitis B dapat mempengaruhi terhadap cakupan imunisasi hepatitis B.
Survey pendahuluan dilakukan pada ibu yang memiliki balita 3 bulan sampai15 bulan sebanyak 20 orang di desa Cibunar pada tanggal 15 April 2009 dengan mengajukan pertanyaan, “Apakah ibu mengetahui tentang imunisasi hepatitis B ?”. hasilnya adalah 7 ibu mengetahui tentang imunisasi hepatitis B, dan 13 ibu menjawab tidak tahu serta belum begitu paham tentang imunisasi hepatitis B.
Berdasarkan latar belakang di atas penulis merasa tertarik untuk meneliti tentang pengaruh tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi terhadap cakupan Imunisasi Hepatitis B pertama pada bayi 0 – 7 hari di wilayah kerja Puskesmas Citeras Tahun 2008.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan data hasil cakupan imunisasi hepatitis B yang didapat dari Dinas Kesehatan Kabupaten Garut serta Puskesmas Citeras penulis menemukan masalah cakupan imunisasi hepatitis B pada bayi 0 – 7 hari, sehingga menimbulkan pertanyaan “Adakah pengaruh tingkat pengetahuan
ibu tentang imunisasi hepatitis B terhadap cakupan imunisasi hepatitis B pertama pada bayi 0 – 7 hari di wilayah kerja Puskesmas Citeras Tahun 2008”.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi hepatitis B terhadap cakupan imunisasi hepatitis B pertama pada bayi 0 – 7 hari di wilayah kerja Puskesmas Citeras.
2. Tujuan Khusus
A. Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu yang memiliki balita 4 bulan sampai 15 bulan tentang imunisasi hepatitis B di wilayah kerja Puskesmas Citeras
B. Untuk mengetahui gambaran cakupan imunisasi hepatitis B di wilayah kerja Puskesmas Citeras
C. Untuk mengetahui pengaruh tingkat pengetahuan ibu yang memiliki balita 4 bulan sampai 15 bulan terhadap cakupan imunisasi hepatitis B di wilayah kerja Puskesmas Citeras
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah wawasan ilmu pengetahuan bagi penulis dan menambah pengalaman dalam hal melakukan penelitian serta dapat menerapkan metodologi penelitian
2. Bagi Tempat yang Diteliti
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan masukan bagi Puskesmas Citeras dalam rangka meningkatkan cakupan imunisasi hepatitis B pada bayi 0 – 7 hari.
3. Bagi Ilmu Pengetahuan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan serta memberi motivasi bagi lembaga pendidikan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan khususnya dalam pengetahuan akan imunisasi.
E. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup dalam penelitian inimeliputi :
1. Ruang Lingkup Materi
Pengaruh pengetahuan tentang imunisasi hepatitis B terhadap cakupan imunisasi hepatitis B 0 – 7 hari di wilayah kerja Puskesmas Citeras
2. Ruang Lingkup Responden
Ibu yang memiliki anak umur 4 bulan sampai 15 bulan di wilayah kerja Puskesmas Citeras.
3. Ruang Lingkup waktu
Penelitian dimulai dari 1 Mei – 1 Juni 2009
4. Ruang Lingkup Tempat
Penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Citeras
Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.161
untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
Persepsi Ibu Hamil Pada Pelayanan Antenatal Care (ANC) Di Puskesmas
BAB I
PENDAHULUAN
Era globalisasi yang mendunia saat ini membuat setiap negara harus bekerja lebih efektif dan efesien untuk meningkatkan nilai saing yang semakin kompetitif. Peningkatan kualitas dan produktifitas kerja menjadi tuntutan dunia bisnis dan industri yang tidak bisa ditunda lagi bila ingin bersaing secara regional maupun global. Tuntutan kultural kerja ini juga menimpa pada organisasi jasa kesehatan. Bekerja dalam bidang kesehatan mempunyai dua fungsi pokok yaitu memproduksi barang dan atau jasa kesehatan bagi pasien dan mengikat setiap persoalan pada pola interrelasi dengan personel lain untuk kerjasama produktif. (Ilyas, 2002)
Pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) adalah salah satu sarana pelayanan kesehatan masyarakat yang amat penting di Indonesia. Adapun yang dimaksud dengan puskesmas ialah suatu unit pelaksana fungsional yang berfungsi sebagai pusat pembangunan kesehatan, pusat pembinaan peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan serta pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menyelenggarakan kegiatan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan pada suatu masyarakat yang bertempat tinggal dalam suatu wilayah tertentu.
Menurut Inguarzo dalam Kadir (2003) mengemukakan bahwa sarana kesehatan ( puskesmas ) belakangan ini mulai menyadari pentingnya memberikan pelayanan berfokus pada harapan dan kepuasan pelanggan.Dikatakan pula bahwa tingkat kepuasan pasien pada puskesmas atau rumah sakit yang sudah dikenal kemungkinan bisa tinggi, walaupun tidak semua persepsinya atau harapannya terpenuhi. Disarankan untuk kondisi seperti ini puskesmas tidak lagi bertujuan hanya untuk mencapai kepuasan yang tinggi tetapi mempertinggi persepsi pasien bahwa puskesmas tersebut adalah centers of excellens. Untuk itu dibutuhkan kemauan puskesmas menemukan harapan pasien, meningkatkan harapan pasien dengan cara memberikan lebih baik dari yang diharapkan sebelumnya disamping meningkatkan persepsi pasien tentang puskesmas dengan memberikan informasi yang optimal. Namun dikatakan pula meskipun ada hubungan antara persepsi dengan harapan namun ada gap antara persepsi dengan kepuasan terhadap pelayanan di puskesmas ( Kadir, 2003 ).
Menurut Robbins dan Judge (2008) mengemukakan bahwa persepsi dipengaruhi oleh karakteristik peribadi (sikap, keperibadian, motif, minat, kebutuhan, pengalaman masa lalu dan harapan seseorang), target (kemiripan, latar belakang, ukuran) dan situasi (waktu, keadaan kerja, keadaan sosial). Sedangkan harapan seseorang menurut Zeithalm dalam kadir (2003) berhubungan dengan komunikasi dari mulut kemulut, kebutuhan individu, pengalaman masa lalu dan komunikasi eksternal.
Untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui program kesehatan ibu dan anak maka pihak Puskesmas Paguyaman melakukan berbagai upaya antara lain menempatkan tenaga bidan di desa yang berada di wilayah kerja Puskesmas Paguyaman. Sebelum penempatan tenaga bidan di desa tenaga tersebut telah dilatih dan disiapkan fasilitas seperti peralatan bidan dan sarana polindes yang akan berfungsi sebagai sarana pelayanan bagi ibu hamil. Dengan penempatan tenaga tersebut diharapkan dapat mempermudah bagi ibu hamil untuk memanfaatkan fasilitas tersebut. Untuk memperlancar pelayanan bagi ibu hamil di polindes maupun di poliklinik KIA Puskesmas Paguyaman mereka diberikan biaya operasional untuk pelaksanaan kegiatan program yang dananya ditentukan berdasarkan jumlah dan jenis kegiatan yang telah direncanakan oleh pihak Dinas Kesehatan Boalemo, selain itu diberikan jasa pelayanan melalui dana gakin dalam bentuk paket yang terdiri atas pemeriksaan antenatal care (ANC), post neonatus care (PNC) dan pertolongan persalinan, sebesar Rp.250,000 per satu paket. Upaya yang dilakukan oleh pihak puskesmas tersebut diharapkan petugas dapat memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas bagi pasien khususnya ibu hamil sehingga tercipta suatu persepsi yang baik pada pelayanan antenatal care dan pada akhirnya target program yang telah ditetapkan dapat tercapai. Hasil kegiatan program pelayanan antenatal care di Puskesmas Paguyaman seperti terlihat pada grafik 1.
Hasil survey awal yang dilakukan terhadap pasien (ibu hamil) yang berkunjung ke puskesmas induk maupun di polindes, mereka mengeluh terhadap pelayanan yang ada di sarana pelayanan tersebut. Keluhan tersebut antara lain petugas kadang tidak berada di polindes sehingga harus ke Puskesmas Paguyaman yang otomatis mengeluarkan biaya perjalanan dan membutuhkan waktu untuk menuju kesarana tersebut
Grafik 1. Cakupan Program Antenatal Care (ANC) di Puskesmas Paguyaman
Kabupaten Boalemo Setiap Tahun.
Faktor lain adalah tenaga bidan kurang respon terhadap keluhan pasien terutama pada saat pasien tidak bisa lagi kesarana pelayanan karena kondisi yang tidak memungkinkan sehingga harus memanggil bidan ke rumah, fasilitas peralatan yang masih terbatas serta sarana polindes yang masih sederhana dan belum layak digunakan karena keterbatasan fasilitas yang dimiliki. Disamping keluhan dari pasien tersebut, para tenaga bidan mengeluh dengan tugas yang diemban sehari-hari dimana mereka mempunyai tugas rangkap untuk memberikan pelayanan pada pasien umum di puskesmas induk dan melayani ibu hamil di pondok bersalin desa (polindes) sehingga ada kejenuhan dalam tugas rangkapnya dan secara tidak langsung akan berpengaruh pada tugas pokoknya sebagai tenaga bidan yang memberikan pelayanan antenatal care (ANC) pada ibu hamil. Dengan adanya keluhan dari pasien khususnya ibu hamil akan memberikan kesan bahwa pelayanan di sarana polindes maupun di puskesmas paguyaman tersebut kurang baik atau tidak memuaskan sehingga mempengaruhi jumlah kunjungan ibu hamil pada hari berikutnya karena mereka menganggap bahwa apa yang diharapkan menyangkut pelayanan ibu hamil tidak sesuai dengan yang ada di Puskesmas Paguyaman
Berdasarkan data dan permasalahan di atas maka, peneliti ingin meneliti tentang ” Studi tentang persepsi ibu hamil pada pelayanan antenatal care (ANC) di Puskesmas Paguyaman Kabupaten Boalemo tahun 2010”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan kenyataan diatas maka dikemukakan permasalahan yakni “ bagaimana Persepsi Ibu Hamil Pada Pelayanan Antenatal Care (ANC) Di Puskesmas Paguyaman Kabupaten Boalemo tahun 2010“.
C. Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah diatas, dapat dikemukakan tujuan penelitian sebagai berikut :
1. Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi ibu hamil pada pelayanan antenatal care (ANC) di Puskesmas Paguyaman Kabupaten Boalemo tahun 2010.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui kebutuhan individu pada pelayanan pelayanan antenatal care (ANC) di Puskesmas Paguyaman Kabupaten Boalemo tahun 2010.
.b. Untuk mengetahui pengalaman ibu hamil pada pelayanan antenatal care (ANC) di Puskesmas Paguyaman Kabupaten Boalemo tahun 2010.
c. Untuk mengetahui harapan ibu hamil pada pelayanan antenatal care (ANC) di Puskesmas Paguyaman Kabupaten Boalemo tahun 2010.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan terutama berkaitan dengan persepsi ibu hamail pada pelayanan antenatal care (ANC) , bagi peneliti berikutnya dimasa yang akan datang.
2. Manfaat bagi praktisi
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi salah satu bahan masukan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Boalemo dalam penentuan arah kebijakan pelayanan antenatal care (ANC) di Puskesmas Paguyaman
3. Manfaat Bagi Peneliti
Merupakan pengalaman yang sangat berharga dalam rangka memperluas wawasan keilmuan dan mencoba melakukan kajian tentang persepsi ibu hamil pada pelayanan antenatal care di Puskesmas Paguyaman Kabupaten Boalemo tahun 2010
Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.160
untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
Perbedaan Tingkat Efektifitas Perawatan Luka Dengan Tehnik Dan Terbuka Terhadap Penyembuhan Luka Tali Pusat Bayi Baru Lahir
BAB 1
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Persalinan adalah proses dimana seorang ibu melahirkan bayinya. Pada saat bayi baru lahir terjadi proses adaptasi dengan dunia luar yang jauh berbeda dengan keadaan dalam rahim sehingga terjadi perubahan (Jumiarni, 1994). Akibat perubahan lingkungan dari uterus ke luar uterus, maka bayi baru lahir menerima rangsangan yang bersifat kimiawi, mekanis dan termis. Hasil dari rangsangan ini membuat bayi akan mengalami perubahan metabolisme, pernafasan, sirkulasi dan lain-lain (Wiknjosastro H, 2002). Disamping itu bayi dituntut melakukan metabolisme dan melaksanakan segala sistem tubuhnya sendiri seperti bernafas, mencerna, eliminasi dan lain – lain yang semula tergantung pada ibunya.
Periode lain adalah terjadinya infeksi terutama pada tali pusat yang merupakan luka basah dan dapat menjadi pintu masuknya kuman tetanus yang sangat sering menjadi penyebab kematian bayi baru lahir (Jumiarni, 1994). Sebelum terjadi penutupan anatomik yang sempurna pembuluh darah tali pusat merupakan tempat masuknya kuman yang paling baik, sehingga bayi mudah menderita infeksi (Markum A.H, 1995). Untuk itu perlu dilakukan perawatan tali pusat. Perawatan tali pusat dapat menggunakan tehnik tertutup atau dengan menggunakan tehnik terbuka. Sampai saat ini di rumah sakit banyak yang menggunakan tehnik perawatan tertutup yaitu membersihkan tali pusat dengan alkohol 70 %, luka dikompres kasa alkohol 70 % kemudian ditutup dengan kassa steril (Cristine, 1993). Dan mulai tahun 2002, sejak adanya pelatihan APN mulai dikembangkan tehnik perawatan terbuka dengan membersihkan tali pusat sampai kering kemudian pertahankan sisa tali pusat dalam keadaan terbuka agar terkena udara dan tutup dengan sehelai kassa steril (PPKC, 2002). Kejadian dilapangan dengan tehnik tersebut proses penyembuhan dan lepasnya tali pusat berbeda-beda, pelepasan biasanya terjadi dalam 2 minggu pertama dengan rentang 2 sampai 45 hari (Cuningham, 1995). Namum sampai saat ini belum ketahui tehnik yang paling efektif terhadap penyembuhan luka tali pusat.
Perawatan tali pusat yang kurang baik dan salah dapat mempengaruhi lamanya proses pengeringan dan lamanya waktu lepas serta dapat menyebabkan infeksi sehingga hal ini tidak efektif terhadap penyembuhan tali pusat (Cuningham, 1995). Tanda lain yang perlu diwaspadai pada tali pusat akibat perawatan yang kurang baik adalah adanya tanda kemerahan, bengkak, keluar cairan, bau busuk dan berdarah (PPKC,2002). Di ruang Perinatologi RSD Dr H Koesnadi Bondowoso bayi baru lahir baik melalui persalinan fisiologis ataupun yang pathologis untuk perawatan luka tali pusatnya ada yang menggunakan tehnik tertutup mengacu pada protap yang ada yaitu dengan kompres basah kasssa alkohol 70%, sedangkan sebagian lagi ada yang menggunakan tehnik terbuka tanpa memberikan sesuatu apapun pada tampuk tali pusat dan kemudian dibiarkan terbuka tanpa tutup (mengacu pada Buku acuan Asuhan Persalinan Normal, 2002).
Walaupun belum ditemukan kejadian infeksi tali pusat selama dirawat di rumah sakit, sampai saat ini dilaporkan rata – rata penyembuhan luka tali pusat terjadi beberapa hari setelah perawatan dirumah dengan rentang waktu yang bervariatif. Rata – rata tenaga keperawatan yang bertugas di Perinatologi belum mengetahui tingkat efektifitas dari kedua perawatan yang dilakukan pada tali pusat bayi baru lahir . Dan sampai saat ini belum ada penelitian tentang perawatan ini. Menurut, Cunningham (1995) menyatakan tali pusat mengering lebih cepat dan lepas lebih awal kalau terbuka, dan karena itu pembalutan tak dianjurkan. Pusat Pengembangan Keperawatan Carolus (2002) menuliskan dalam makalah Pelatihan Managemen Asuhan Kebidanan, bahwa perawatan tali pusat dengan tehnik terbuka lebih baik karena tali pusat yang tidak tertutup akan mengering dan puput lebih cepat dengan komplikasi yang sedikit. Manfaat lain dari perawatan terbuka tentu akan lebih sedikit bahan dan alat habis pakai yang akan digunakan perawat yang bertugas, sehingga akan menekan biaya yang dikeluarkan rumah sakit. Sedang perawatan tali pusat tehnik tertutup didasarkan pada kajian literatur yang menyatakan bahwa dengan tehnik tertutup akan mencegah terjadinya kontaminasi dengan dunia luar dan melindungi luka tali pusat dari gesekan, walaupun secara ekonomi akan lebih banyak bahan dan alat yang diperlukan.
Adanya berbagai tehnik perawatan tali pusat dan beragamnya alat dan bahan habis pakai yang digunakan khususnya di ruang perawatan perinatologi RSD Dr H Koesnadi Bondowoso, dan belum diketahuinya tingkat efektifitas perawatan tali pusat yang dilakukan terhadap proses penyembuhan, peneliti mencoba melakukan penelitian tentang efektifitas perawatan luka dengan tehnik tertutup dan terbuka terhadap penyembuhan luka tali pusat pada bayi baru lahir di ruang Perinatologi RSD Dr H Koesnadi Bondowoso. Diharapkan dengan penelitian ini dapat ditemukan tehnik perawatan tali pusat yang efektif terhadap proses penyembuhan luka tali pusat dan juga efesien dari biaya yang dikeluarkan rumah sakit, sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan di rumah sakit khususnya di Ruang Perinatologi.
1.2. Rumusan Masalah
Bagaimanakah perbedaan tingkat efektifitas perawatan luka dengan tehnik tertutup (dengan kassa alkohol 70 %) dan terbuka (dengan tanpa memberikan apapun pada tampuk tali pusat) terhadap penyembuhan luka tali pusat bayi baru lahir.
1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan umum
Mengidentifikasi tingkat efektifitas perawatan luka dengan tehnik tertutup dan terbuka terhadap penyembuhan luka tali pusat pada bayi baru lahir.
1.3.2. Tujuan khusus
1. Mengidentifikasi efektifitas perawatan luka dengan tehnik tertutup terhadap penyembuhan luka tali pusat pada bayi baru lahir.
2. Mengidentifikasi efektifitas perawatan luka dengan tehnik terbuka terhadap penyembuhan luka tali pusat pada bayi baru lahir.
3. Mengidentifikasi perbedaan tingkat efektifitas perawatan luka dengan tehnik tertutup dan terbuka terhadap penyembuhan luka tali pusat pada bayi baru lahir.
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Teoritis
Dengan diketahuinya tehnik perawatan tertutup dan terbuka serta tingkat efektifitasnya dalam penyembuhan luka tali pusat memberikan masukan pada penelitian keperawatan dalam upaya peningkatan mutu pelayanan keperawatan.
1.4.2. Praktis
Tehnik perawatan yang efektif dapat digunakan sebagai tehnik alternative dalam perawatan tali pusat bayi baru lahir sebagai tindakan yang cukup efektif dan effesien.
Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.159
untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
Langganan:
Postingan (Atom)