Gambaran Pengetahuan Kepala Keluarga (Suami) Tentang Infertilitas Di Kelurahan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menopause merupakan suatu fase alamiah yang akan dialami oleh setiap wanita yang biasanya terjadi diatas usia 40 tahun. Kondisi ini merupakan suatu akhir proses biologis yang menandai berakhirnya masa subur seorang wanita. Dikatakan menopause bila siklus mensturasinya telah berhenti selama 1 bulan. Berhentinya haid tersebut akan membawa dampak pada konsekuensi kesehatan baik fisik maupun psikis (Retnowati Noor, 2001)
Sebuah Tinjauan psikologis oleh Sofia Retnowati Hoor, mengatakan bahwa ada wanita pada masa menopause mengalami gangguan fisik, seksual, sosial, dan gangguan psikologis, dan ada juga wanita tanpa mengalami berbagai keluhan baik fisik, psikologis, dan sosial. Perbedaan ini dipengaruhi oleh berat ringannya stress yang dialami wanita dalam menghadapi dan mengatasi menopause sebagai akibat penilaiannya terhadap menopause.
Dari hasil penelitian yang dilakukan di Kabupaten Pasuruan adanya perbedaan yang signifikan antara kecemasan menghadapi menopause pada wanita bekerja dengan kecemasan menghadapi menopause pada wanita tidak bekerja, dimana wanita bekerja kecemasannya lebih rendah (rata-rata 71,024) dari pada wanita tidak bekerja (rata-rata 103,585). Juga di Kabupaten Sidoardjo ditemukan, sebagian besar wanita tidak bekerja mengalami kecemasan ringan (36,2%) dan wanita bekerja tidak mengalami kecemasan (37,3%).
Penelitian ini menunjukkan bahwa wanita bekerja tidak mudah mengalami kecemasan menghadapi menopasue, karena wanita bekerja lebih mempunyai kesibukan yang dapat mengalihkan keluhan-keluhan yang dirasakannya menjelang menopause, sehingga kecemasannya lebih rendah daripada wanita tidak bekerja.
Bagi wanita yang menilai dan menganggap menopause itu sebagai peristiwa yang menakutkan dan berusaha untuk menghindarinya, maka stres pun sulit dihindari. Ia akan merasa sangat menderita karena kehilangan tanda-tanda kewanitaan yang selama ini dibanggakannya. Sebaliknya bagi wanita yang menganggap menopause sebagai suatu ketentuan Tuhan yang akan dihadapi semua wanita, maka ia tidak mengalami stres (Hawari, 1996).
Menurut pendekatan kognitif, dalam ilmu psikologis, pada dasarnya gangguan emosi (takut, cemas, setres) yang dialami manusia sangat di tentukan oleh bagaimana individu menilai, peristiwa yang dialaminya. Beberapa mitos yang berkembang di masyarakat yang dapat menambah rasa cemas ibu menopause adalah saat mengalami menopause, antara lain : wanita yang mengalami menopause otomatis akan “menjadi tua” atau “waktunya sudah dekat”, kehilangan daya tarik seksualnya, periode menapouse sama dengan periode goncangan jiwa Disamping itu wanita yang sangat mencemaskan menopause besar kemungkinan karena kurang mempunyai informasi yang benar mengenai seluk beluk menopause. Maka sangat perlu wanita yang mengalami menopause mencari informasi yang objektif mengenai segala sesuatu yang menyangkut menopause khususnya bagi wanita yang belum mengalami menopause hal ini sangat penting. (Retnowati Noor, 2001).
Sindroma menopause dialami oleh banyak wanita hampir diseluruh dunia, sekitar 70-80% wanita Eropa, 60% di Amerika, 57 % di Malaysia, 18 % di Cina dan 10 % di Jepang da Indonesia dari beberapa data tampak bahwa salah satu faktor dari perbedaan jumlah tersebut adalah karena pola makannya. Pola makan wanita Eropa dan Amerika dapat lebih meningkatkan kadar Estrogen di dalam tubuh dibandingkan dengan wanita Asia, ehingga ketika masa menopause tiba jumlah Estrogen drastis menurun menyebabkan tingginya sindome menopause (Liza, 2011).
Menurut hasil penelitian Departemen Obsetri dan Ginekologi di Sumatera satu kota di Indonesia, keluhan masalah kesehatan yang dihadapi oleh perempuan menopause terkait dengan rendahnya kadar estrogen atau androgen di dalam sirkulasi darah, sehingga muncul keluhan nyeri senggama (93,33 %), keluhan pendarahan pasca senggama (84,44 %), vagina kering (93,33 %), dan keputihan (75,55 %), keluhan gatal pada vagina (88,88%), perasaan panas pada vagina (84,44 %), nyeri berkemih (77,77 %), inkontenensia urin (68,88 %), (Hadrians, dkk, 2005).
Namun menurut Reiz (1993) apabila keluhan yang dialami menjelang dan ketika menopause dihadapi dengan tenang, maka akan dapat mengatasi gejolak dalam hidupnya, perkawinan, penyakit, dan situasi stress.
Menurut survei pendahuluan yang dilakukan di Kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Tahun 2011 terdapat ibu menopause dari umur 40 tahun ke atas berjumlah 327 orang.
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas penulis tertarik untuk memilih judul “Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Menopause di Kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Kota .......... tahun 2011.”
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan uraian diatas maka dapat dirumuskan masalahnya yaitu : “Bagaimana gambaran pengetahuan ibu tentang menopause di Kelurahan .......... kecamatan .......... Selatan Kota .......... tahun 2011?”.
C. Tujuan Penelitian
C.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang menopause di Kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Kota .......... tahun 2011.
C.2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang menopause di kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Kota .......... Tahun 2011 berdasarkan umur.
b. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang menopause di Kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Tahun 2011 berdasarkan pendidikan.
c. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang menopause di Kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Tahun 2011 berdasarkan pekerjaan.
D. Manfaat Penelitian
D.1. Bagi Peneliti
Untuk menambah pengetahuan dan wawasan penulis serta menerapkan ilmu-ilmu kesehatan yang telah di dapat selama pendidikan di Akademi Kebidanan .....................
D.2. Bagi Pendidikan
Sebagai bahan informasi untuk melakukan penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan menopause dan dapat referensi kepustakaan Akademi Kebidanan .....................
D.3. Bagi Tempat Peneliti
Penelitian ini akan menjadi bahan informasi dan masukan bagi ibu tentang menopause di Kelurahan ...........
Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.136
untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Menopause di Kelurahan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menopause merupakan suatu fase alamiah yang akan dialami oleh setiap wanita yang biasanya terjadi diatas usia 40 tahun. Kondisi ini merupakan suatu akhir proses biologis yang menandai berakhirnya masa subur seorang wanita. Dikatakan menopause bila siklus mensturasinya telah berhenti selama 1 bulan. Berhentinya haid tersebut akan membawa dampak pada konsekuensi kesehatan baik fisik maupun psikis (Retnowati Noor, 2001)
Sebuah Tinjauan psikologis oleh Sofia Retnowati Hoor, mengatakan bahwa ada wanita pada masa menopause mengalami gangguan fisik, seksual, sosial, dan gangguan psikologis, dan ada juga wanita tanpa mengalami berbagai keluhan baik fisik, psikologis, dan sosial. Perbedaan ini dipengaruhi oleh berat ringannya stress yang dialami wanita dalam menghadapi dan mengatasi menopause sebagai akibat penilaiannya terhadap menopause.
Dari hasil penelitian yang dilakukan di Kabupaten Pasuruan adanya perbedaan yang signifikan antara kecemasan menghadapi menopause pada wanita bekerja dengan kecemasan menghadapi menopause pada wanita tidak bekerja, dimana wanita bekerja kecemasannya lebih rendah (rata-rata 71,024) dari pada wanita tidak bekerja (rata-rata 103,585). Juga di Kabupaten Sidoardjo ditemukan, sebagian besar wanita tidak bekerja mengalami kecemasan ringan (36,2%) dan wanita bekerja tidak mengalami kecemasan (37,3%).
Penelitian ini menunjukkan bahwa wanita bekerja tidak mudah mengalami kecemasan menghadapi menopasue, karena wanita bekerja lebih mempunyai kesibukan yang dapat mengalihkan keluhan-keluhan yang dirasakannya menjelang menopause, sehingga kecemasannya lebih rendah daripada wanita tidak bekerja.
Bagi wanita yang menilai dan menganggap menopause itu sebagai peristiwa yang menakutkan dan berusaha untuk menghindarinya, maka stres pun sulit dihindari. Ia akan merasa sangat menderita karena kehilangan tanda-tanda kewanitaan yang selama ini dibanggakannya. Sebaliknya bagi wanita yang menganggap menopause sebagai suatu ketentuan Tuhan yang akan dihadapi semua wanita, maka ia tidak mengalami stres (Hawari, 1996).
Menurut pendekatan kognitif, dalam ilmu psikologis, pada dasarnya gangguan emosi (takut, cemas, setres) yang dialami manusia sangat di tentukan oleh bagaimana individu menilai, peristiwa yang dialaminya. Beberapa mitos yang berkembang di masyarakat yang dapat menambah rasa cemas ibu menopause adalah saat mengalami menopause, antara lain : wanita yang mengalami menopause otomatis akan “menjadi tua” atau “waktunya sudah dekat”, kehilangan daya tarik seksualnya, periode menapouse sama dengan periode goncangan jiwa Disamping itu wanita yang sangat mencemaskan menopause besar kemungkinan karena kurang mempunyai informasi yang benar mengenai seluk beluk menopause. Maka sangat perlu wanita yang mengalami menopause mencari informasi yang objektif mengenai segala sesuatu yang menyangkut menopause khususnya bagi wanita yang belum mengalami menopause hal ini sangat penting. (Retnowati Noor, 2001).
Sindroma menopause dialami oleh banyak wanita hampir diseluruh dunia, sekitar 70-80% wanita Eropa, 60% di Amerika, 57 % di Malaysia, 18 % di Cina dan 10 % di Jepang da Indonesia dari beberapa data tampak bahwa salah satu faktor dari perbedaan jumlah tersebut adalah karena pola makannya. Pola makan wanita Eropa dan Amerika dapat lebih meningkatkan kadar Estrogen di dalam tubuh dibandingkan dengan wanita Asia, ehingga ketika masa menopause tiba jumlah Estrogen drastis menurun menyebabkan tingginya sindome menopause (Liza, 2011).
Menurut hasil penelitian Departemen Obsetri dan Ginekologi di Sumatera satu kota di Indonesia, keluhan masalah kesehatan yang dihadapi oleh perempuan menopause terkait dengan rendahnya kadar estrogen atau androgen di dalam sirkulasi darah, sehingga muncul keluhan nyeri senggama (93,33 %), keluhan pendarahan pasca senggama (84,44 %), vagina kering (93,33 %), dan keputihan (75,55 %), keluhan gatal pada vagina (88,88%), perasaan panas pada vagina (84,44 %), nyeri berkemih (77,77 %), inkontenensia urin (68,88 %), (Hadrians, dkk, 2005).
Namun menurut Reiz (1993) apabila keluhan yang dialami menjelang dan ketika menopause dihadapi dengan tenang, maka akan dapat mengatasi gejolak dalam hidupnya, perkawinan, penyakit, dan situasi stress.
Menurut survei pendahuluan yang dilakukan di Kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Tahun 2011 terdapat ibu menopause dari umur 40 tahun ke atas berjumlah 327 orang.
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas penulis tertarik untuk memilih judul “Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Menopause di Kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Kota .......... tahun 2011.”
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan uraian diatas maka dapat dirumuskan masalahnya yaitu : “Bagaimana gambaran pengetahuan ibu tentang menopause di Kelurahan .......... kecamatan .......... Selatan Kota .......... tahun 2011?”.
C. Tujuan Penelitian
C.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang menopause di Kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Kota .......... tahun 2011.
C.2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang menopause di kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Kota .......... Tahun 2011 berdasarkan umur.
b. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang menopause di Kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Tahun 2011 berdasarkan pendidikan.
c. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang menopause di Kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Tahun 2011 berdasarkan pekerjaan.
D. Manfaat Penelitian
D.1. Bagi Peneliti
Untuk menambah pengetahuan dan wawasan penulis serta menerapkan ilmu-ilmu kesehatan yang telah di dapat selama pendidikan di Akademi Kebidanan .....................
D.2. Bagi Pendidikan
Sebagai bahan informasi untuk melakukan penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan menopause dan dapat referensi kepustakaan Akademi Kebidanan .....................
D.3. Bagi Tempat Peneliti
Penelitian ini akan menjadi bahan informasi dan masukan bagi ibu tentang menopause di Kelurahan ...........
Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.135
untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Infertilitas di Desa
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Infertilitas (kemandulan) merupakan masalah kesehatan, dimana pasangan suami istri tidak mengetahui kalau pasangannya mengalami infertilitas dan penyebab terjadinya infertilitas. Infertilitas ini membutuhkan perhatian di seluruh dunia maupun di Indonesia, karena banyaknya pasangan infertil di Indonesia khususnya pada wanita yang pernah kawin tapi tidak mempunyai anak. Sedangkan di negara-negara maju seperti Amerika, Jepang ditemukan kasus infertil baik dari laki-laki maupun perempuan sekitar 80% jumlah pasangan infertil diperoleh ± 400 juta pasangan (Siswono, 2003).
Faktor-faktor organik/psikologi merupakan penyebab terjadinya infertilitas karena kekakuan yang berlebihan (emotion stress) dapat juga menurunkan kesuburan wanita. Selain itu pendapat umum mengatakan bahwa ketegangan jiwa/kecemasan dapat menyebabkan spasmus di daerah antara uterus dan tuba (utero-tubal junction). Di negara Jugoslavia ditemukan 678 kasus dengan keluhan sterilias, 544 kasus (81,6%) disebabkan oleh kelainan organik, dan 124 kasus (18,4%) disebabkan oleh faktor penanggulangan infertilitas dan subfertilitas yang mempunyai kadar psikologi sebaiknya dilakukan dengan pendidikan psikologi (Prawirohardjo, 2003).
Saat ini diketahui diketahui bahwa sekitar 10% pasangan usia subur yang telah menikah menderita infertilitas primer, 10% lainnya mengalami infertilitas sekunder, yaitu ketidakberhasilan untuk hamil lagi setelah mempunyai satu atau dua anak. Dalam masalah infertilitas pasangan ini, diketahui bahwa 64% penyebabnya datang dari pihak istri, yaitu 15% karena tuba, 21% karena ovulasi, 8% karena endometrosis, 8% karena masalah vagina, serviks, korpus dan endometrium, 8% psikogenetik, dan 15-20% penyebabnya tidak diketahui (idiopatik), 16% penyebab yang multifaktorial dari suami maupun istri (Henderson, 2006).
Menurut Worlth Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa jumlah pasangan infertilitas sebanyak 36% diakibatkan adanya kelainan pada si ayah, sedangkan 64% berada pada si ibu. Halini di alami 17% pasangan yang sudah menikah lebih dari 2 tahun belum mengelami tanda-tanda kehamilan bahkan sama sekali pernah hamil.
Beberapa daerah di Indonesia, wanita seringkali disalahkan menjadi penyebab infertilitas yang tidak bisa hamil. Padahal, masalah infertilitas dapat berasal dari pihak laki-laki, perempuan ataupun interaksi keduanya. Menurut penelitian PERSI di Jakarta, 36% infertilitas diakibatkan adanya kelainan pada si ayah, sedangkan 64% ada pada si ibu.
Pada tahun 1985 diperoleh data jumlah infertilitas di Indonesia sebanyak 12% pasangan, jumlah ini sama dengan 3 juta pasangan menikah, dari jumlah tersebut 10% mengalami infertilitas primer, atau belum terjadi kehamilan walaupun pasangan tersebut mengalami bersenggama teratur dan dihadapkan pada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan berturut-turut. 10% lainnya akibat infertilitas primer, atau belum berhasil lagi untuk hamil, umumnya 32,7% hamil dalam satu bulan 57% hamil dalam 3 bulan, 72,1% hamil dalam waktu 6 bulan, 85% dalam 12 bulan, dan 93,4% dalam 24 bulan (Robert, 2003).
Pada bulan April-Mei 2011 di Desa .......... Kecamatan .......... ditemukan jumlah pasangan yang menderita infertilias sebanyak 35 orang dari lingkungan Desa .......... yang jumlah penduduknya sekitar 924 rumah tangga.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengetahui “Bagamanakah Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Infertilitas Di Desa .......... Kecamatan .......... Tahun 2011”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagamanakah gambaran pengetahuan ibu tentang infertilitas di Desa .......... Kecamatan .......... Tahun 2011”.
C. Tujuan Penelitian
C.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang infertilitas di Desa .......... Kecamatan .......... Tahun 2011.
C.2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang infertilitas di Desa .......... Kecamatan .......... Tahun 2011 berdasarkan umur.
b. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang infertilitas di Desa .......... Kecamatan .......... Tahun 2011 berdasarkan pendidikan.
c. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang infertilitas di Desa .......... Kecamatan .......... Tahun 2011 berdasarkan pekerjaan.
d. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang infertilitas di Desa .......... Kecamatan .......... Tahun 2011 berdasarkan sumber informasi.
D. Manfaat Penelitian
D.1. Bagi Ibu
Sebagai sumber informasi khususnya bagi ibu-ibu tentang seberapa banyak penyebab infertilitas di Desa .......... Kecamatan .......... Tahun 2011.
D.2. Bagi Pendidikan
Sebagai bahan referensi dan bahan bacaan di perpustakaan serta sebagai bahan penelitian selanjutnya.
D.3. Bagi Peneliti
Untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang telah didapat selama pendidikan dan menambah wawasan dan pengalaman. Sebagai syarat untuk menyelesaikan pendidikan D.III Keperawatan.
Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.134
untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
Gambaran pengetahuan Ibu tentang AKDR di Kelurahan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Situasi dan kondisi Indonesia dalam bidang kependudukan saat ini masih sangat memprihatinkan. Dengan jumlah yang sangat besar yaitu sekitar 215 juta jiwa. Pada tahun 2007 menduduki urutan ke-4 dari seluruh dunia.kepesatan penduduk Indonesia tersebut merupakan fenomena yang memerlukan perhatian dan penanganan yang lebih sungguh-sungguh dan berkelanjutan. Keadaan ini sangat mempengaruhi masalah kualitas sumber daya manusia karena masih dijumpainya penduduk yang sangat miskin, yang sangat memerlukan bantuan untuk sekedar hidup.
Salah satu upaya yang perlu dilakukan oleh pemerintah untuk menangani masalah ini adalah dengan menggalakkan dan mengaktifkan kembali program keluarga berencana nasional Indonesia untuk pembangun-an yang berorientasi pada masa depan yang lebih baik.
Pembangunan Keluarga Berencana Nasional diarahkan kepada terwujudnya “Keluarga Berkualitas 2015” yang pada hakikatnya dimaksudkan untuk mewujudkan keluarga-keluarga Indonesia yang mempunyai anak ideal, sehat, berpendidikan, sejahtera, berketahanan dan terpenuhi hak-hak reproduksinya (BKKBN, 2006).
Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) merupakan salah satu jenis alat kontrasepsi yang mengandung hormon untuk mencegah terjadinya konsepsi. Keuntungan dari pemakaian AKDR ini selain lebih efektif, tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI bagi ibu yang menyusui, penyulit tidak terlalu berat, dan pulihnya kesuburan setelah pencabutan alat kontrasepsi berlangsung baik (Manuaba, 1998).
Berdasarkan data dari Negara Amerika Serikat jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) yang menggunakan alat kontrasepsi AKDR di dunia 13,6% dan di negara maju PUS yang menggunakan alat kontrasepsi masih rendah sebanyak 7,6% dan di negara-negara yang sedang berkembang sudah mengalami peningkatan dengan jumlah 14,5% (Statistik, 2008).
Dari hasil laporan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) melaporkan jumlah PUS yang telah menggunakan kontrasepsi AKDR sebanyak 4,8%, sedangkan di Medan jumlah PUS yang menggunakan alat kontrasepsi AKDR sebanyak 2,586%. Kondisi ini menunjukkan bahwa masih sangat rendahnya minat PUS terhadap AKDR (Statistik, 2008).
Di wilayah Pemko ......... tercatat jumlah PUS yang menggunakan alat kontrasepsi AKDR sejumlah 17,10% dan data yang diperoleh dari Kelurahan ......... mendapat urutan ke-4 menggunakan AKDR sebanyak 99 orang (1,5%) dan dilaporkan jumlah PUS sebanyak 1,605 orang.
Rendahnya minat PUS terhadap AKDR tentunya tidak terlepas dari rendahnya dukungan suami untuk menggunakan alat kontrasepsi tersebut. Sehingga sangat perlu pemahaman yang baik tentang AKDR bagi pasangan usia subur (Depkes, 2000).
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis merasa tertarik untuk mengetahui Gambaran pengetahuan Ibu terhadap AKDR di Kelurahan ......... Kecamatan ......... Selatan Tahun 2011.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah Gambaran pengetahuan Ibu tentang AKDR di Kelurahan ......... Kecamatan ......... Selatan tahun 2011?”
C. Tujuan Penelitian
C.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Gambaran pengetahuan Ibu Tentang Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) di Kelurahan ......... Kecamatan ......... Selatan Tahun 2011.
C.2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang AKDR di Kelurahan ......... Kecamatan ......... Selatan berdasarkan umur.
b. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang AKDR di Kelurahan ......... Kecamatan ......... Selatan berdasarkan pendidikan.
c. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang AKDR di Kelurahan ......... Kecamatan ......... Selatan berdasarkan paritas.
d. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang AKDR di Kelurahan ......... Kecamatan ......... Selatan berdasarkan pekerjaan.
e. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang AKDR di Kelurahan ......... Kecamatan ......... Selatan berdasarkan sumber informasi.
D. Manfaat Penelitian
D.1. Bagi Peneliti
Dapat menambah pengalaman dan mengembangkan pengetahuan penulis dalam melakukan penelitian
D.2. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan bacaan di perpustakaan dan sebagai bahan masukan bagi peneliti yang akan datang.
D.3. Bagi Tempat Penelitian
Menambah pengetahuan bagi Ibu di Kelurahan ......... Kecamatan ......... Selatan Tahun 2011.
Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.133
untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
Gambaran Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Mastitis di Klinik
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gerakan Nasional peningkatan penggunaan Air Susu Ibu (ASI) merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak. Upaya penting ini, keberhasilannya perlu di dukung dan dilaksanakan oleh seluruh anggota masyarakat. Para ibu, sebagai pelopor peningkatan kualitas sumber daya Indonesia, patut menyadari dan meningkatkan pengetahuannya untuk menunjang gerakan ini (Winkjosostro,1999).
Pada dasarnya, segera setelah melahirkan, secara naluri setiap ibu mampu menjalankan tugas untuk menyusui bayinya. Namun, untuk mempraktekkan bagaimana menyusui bayi yang baik dan benar, setiap ibu perlu mempelajarinya. Bukan saja ibu-ibu yang baru pertama kali hamil dan melahirkan, tetapi juga ibu-ibu yang baru melahirkan anak yang ke-2 dan seterusnya. Karena setiap bayi lahir merupakan individu tersendiri. Dengan demikian ibu perlu belajar berinteraksi dengan bayi yang baru lahir ini, agar dapar berhasil dalam menyusui. Untuk itu diperlukan motivasi yang tinggi sejak dini dan dukungan serta bimbingan yang optimal dari keluarga, lingkungan dan tenaga kesehatan yang merawat ibu selama hamil, bersalin dan masa nifas (Ziemeretal,1999).
Dengan mengikuti dan mempelajari segala pengetahuan mengenai
laktasi, diharapkan setiap ibu hamil, bersalin dan menyusui dapat memberikan ASI secara optimal, sehingga bagi dapat tumbuh kembang normal sebagai calon sumber daya manusia yang berkualitas tinggi (Winkjosostro,1999).
Memiliki seorang anak yang baru lahir adalah sesuatu yang sangat menakjubkan, perubahan hidup karena kehadiran buah hatipun terjadi. Prioritas pertama saat itu adalah memberikan ASI sebagai makanan bagi bayinya. Masa-masa menyusui tersebut sering kali membuat ibu mengalami pengerasan payudara hingga berakibat mastitis. Mastitis ini tidak akan terjadi bila ibu memberikan ASI-nya dengan cara yang benar (Winkjosostro,1999)
Mastitis adalah infeksi yang disebabkan adanya sumbatan pada duktus hingga puting susupun mengalami sumbatan. Mastitis paling sering terjadi pada minggu kedua dan ketiga pasca kelahiran. Penyebab penting dari mastitis ini adalah pengeluaran ASI yang tidak efisien akibat teknik menyusui yang buruk. Untuk menghambat terjadinya mastitis ini dianjurkan untuk menggunakan bra atau pakaian dalam yang memiliki penyangga yang baik pada payudaranya (Sally I, 2003).
Selalu pastikan tindakan menyusui dengan posisi dan sikap yang benar. Kesalahan sikap saat menyusui menyebabkan terjadinya sumbatan duktus. Pengurutan sebelum laktasi adalah salah satu tindakan yang sangat efektif untuk menghindari terjadinya sumbatan pada duktus. Menggunakan penyangga bantal saat menyusui dapat pula membantu membuat posisi menyusui menjadi lebih baik (Henderson Christine, 2005).
Ada sejumlah faktor yang telah diduga dapat meningkatkan resiko mastitis yaitu teknik menyusui yang buruk mengakibatkan pengeluaran ASI yang tidak efisien, pekerjaan diluar rumah yang menyebabkan interval menyusui yang panjang sehingga kekurangan waktu untuk pengeluaran ASI yang adekuat dan trauma pada payudara karena penyebab apapun yang dapat merusak jaringan kelenjar dan saluran susu sehingga dapat menyebabkan mastitis (Sally I, 2003).
Organisasi kesehatan dunia (2008) memperkirakan lebih dari 1,4 juta orang terdiagnosis menderita mastitis. The American Society memperkirakan 241.240 wanita Amerika Serikat terdiagnosis mastitis. Sedangkan di Kanada jumlah wanita yang terdiagnosis mastitis adalah 24.600 orang dan di Australia sebanyak 14.791 orang.
Di Indonesia diperkirakan wanita yang terdiagnosis mastitis adalah berjumlah 876.665 orang dan di Sumatera Utara berkisar 40-60% wanita terdiagnostik mastitis (http://www.kompas.online.com/2008).
Berdasarkan hasil survei lapangan ditemukan jumlah penderita mastitis di Klinik Bidan ......... ......... Periode Tahun 2008 (Januari-Desember) sebanyak 30 orang. Hal ini menunjukkan bahwa masih rendahnya pengetahuan ibu post partum tentang mastitis terutama dalam teknik menyusui yang baik.
Berdasarkan uraian di atas, penulis merasa tertarik untuk meneliti tentang “Gambaran Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Mastitis di Klinik Bidan ......... ......... Periode Tahun 2011”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis berkeinginan untuk mengnagkat permasalahan tentang “Bagaimanakah Gambaran Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Mastitis di Klinik Bidan ......... ......... Periode Tahun 2011?”.
C. Tujuan Penelitian
C.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Mastitis di Klinik Bidan ......... ......... Periode Tahun 2011.
C.2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Mastitis di Klinik Bidan ......... ......... Periode Tahun 2011 berdasarkan umur.
2. Untuk mengetahui Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Mastitis di Klinik Bidan ......... ......... Periode Tahun 2011 berdasarkan pendidikan
3. Untuk mengetahui Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Mastitis di Klinik Bidan ......... ......... Periode Tahun 2011 berdasarkan pekerjaan.
4. Untuk mengetahui pengetahuan ibu post partum Tentang Mastitis di Klinik Bidan ......... ......... Periode Tahun 2011 berdasarkan informasi.
D. Manfaat Penelitian
D.1. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan informasi untuk melakukan penelitian yang selanjutnya tentang mastitis dan dapat dijadikan bahan bacaan yang bermanfaat bagi mahasiswa/i Akbid/Akper ......... ..........
D.2. Bagi Masyarakat
Sebagai bahan masukan bagi ibu post partum untuk meningkatkan pemahaman tentang pencegahan dan pengobatan mastitis.
D.3. Bagi Petugas Kesehatan
Masukan bagi petugas kesehatan di tempat penelitian untuk dapat meningkatkan pelayanan kepada penderita mastitis di Klinik Bidan ......... ..........
D.4. Bagi Peneliti
Untuk menambah wawasan pengetahuan dan pengolahan penulis dalam hal melakukan suatu penelitian khususnya dalam masalah pengetahuan ibu post partum tentang mastitis di Klinik Bidan ......... ..........
Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.132
untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
Gambaran Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Perawatan Bayi Prematur di RSU
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bayi prematur adalah bayi yang lahir dengan usia gestasi kurang dari dan sama dengan 37 minggu dengan berat badan lahir rendah yaitu kurang dari 2500 gram (Surasmi, 2003). Di negara maju seperti Amerika Serikat, kelahiran bayi prematur terus meningkat per tahunnya, di Indonesia kelahiran bayi prematur justru diikuti kematian si bayi, kelahiran bayi prematur tidak bisa diabaikan begitu saja.
Sejak tahun 1961 WHO (World Health Organization) telah mengganti istilah prematur dengan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) atau Low Birth Weight Baby. Hal ini dilakukan karena tidak semua bayi dengan berat kurang dari 2500 gram pada lahir waktu lahir disebut bayi prematur. Seorang bayi prematur belum berfungsi seperti bayi matur, oleh sebab itu bayi akan banyak mengalami kesulitan untuk hidup diluar uterus ibunya (Prawirohardjo, 2004)
Setiap tahun diperkirakan bayi lahir sekitar 350.000 bayi prematur atau berat badan lahir rendah di Indonesia. Tingginya kelahiran bayi prematur tersebut karena saat ini 30 juta perempuan usia subur yang kondisinya kurang energi kronik dan sekitar 80% ibu hamil menjalani anemia difisiensi gizi. Tingginya yang kurang gizi mengakibatkan pertumbuhan janin terganggu sehingga beresiko lahir dengan berat badan di bawah 2500 gram (Manuaba, 2003).
Bayi yang lahir dengan berat badan yang rendah rentan mengalami berbagai komplikasi, baik sesaat setelah dilahirkan dan dikemudian hari, jika tidak langsung mendapat perawatan yang tepat, inilah yang banyak dikhawatirkan para ibu, terutama yang tengah menanti kelahiran si bayi, tidak ada cara pasti untuk benar-benar mencegah kelahiran bayi prematur.
Bayi prematur membutuhkan dukungan nutrisi yang khusus oleh karena derajat imaturitas biokomianya yang tinggi, laju pertumbuhannya yang cepat dan dapat terjadi insiden komplikasi medik yang lebih besar. Bayi yang lahir prematur juga harus diberi vaksinasi agar terhindar dari penyakit menular mematikan. Pemberian imunisasi ini harus dikonsultasikan lebih dulu dengan dokter, demikian juga dengan pemberian makan semi padat (Muchtar, 2004).
Untuk bayi yang lahir secara prematur dengan berat badan diatas 2000 gram, anak sudah bisa mendapatkan ASI dari si Ibu, tetapi juga ada bayi yang belum bisa menyerap ASI, saluran cerna yang belum matang juga akan menimbulkan dampak pada bayi prematur. Bayi prematur diharuskan dibuat di inkubator, karena bayi tersebut seharusnya masih berada di dalam kandungan dengan segala kenyamanannya berjuang beradaptasi dengan dunia luar. Inkubator untuk menjaga suhu bayi supaya tetap stabil, akibat sistem pengaturan suhu dalam tubuh bayi prematur belum sempurna, maka seharusnya bisa naik dan turun secara drastis. Ini tentu bisa membahayakan kondisi kesehatannya. Selain itu otot-ototnya pun relatif lebih lemah, sementara cadangan lahir cukup bulan (Muchtar, 2004).
Masalah yang harus dihadapi oleh semua bayi neonatal terhadap lebih banyak pada bayi prematur misalnya, mereka membutuhkan oksigen tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan bayi yang cukup umur, karena pusat pernafasan belum sempurna. Bayi prematur memerlukan pemberian makanan yang khusus dengan alat penetes obat atau pipa karena refleks menelan dan menghisap yang lemah. Kehangatan bayi prematur harus diperhatikan diperlukan peralatan khusus untuk memperoleh suhu yang hampir sama dengan suhu dalam rahim (Hurlock, 2002).
Selama bayi berada di rumah sakit dan di bawah perawatan dokter, Bidan dan Perawat, orang tua tidak terlampau khawatir tentang ketidak berdayaannya, akan tetapi bila bayi sudah dibawa pulang dan orang tua bertanggung jawab atas perawatannya, maka ketidakberdayaan bayi menjadi bahaya psikologi yang hebat.
Berdasarkan hasil survey lapangan yang dilakukan peneliti di RSU. F.L. .......... Kota ........ Tahun 2008/2011 jumlah bayi prematur 55 orang dan bayi prematur yang tinggal bersama keluarga sebannyak 48 orang di RSU. F.L. .......... Kota ........ Tahun 2008/2011.
Dari survey awal di dapat dari rekam medik RSU. F.L. .......... Kota ........ Tahun 2008 terdapat 36 kasus bayi prematur dan sudah 10 orang diantaranya meninggal dunia.
Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Gambaran Pengetahuan Tentang Perawatan Bayi Prematur di RSU. F.L. .......... Kota ........ Tahun 2011”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah Gambaran Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Perawatan Bayi Prematur di RSU. dr. F.L. .......... ........ Tahun 2011?”.
C. Tujuan Penelitian
C.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu nifas tentang perawatan bayi prematur di RSU. .......... Kota .........
C.2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui pengetahuan ibu nifas tentang perawatan bayi prematur berdasarkan umur.
2. Untuk mengetahui pengetahuan ibu nifas tentang perawatan bayi prematur berdasarkan pendidikan.
3. Untuk mengetahui pengetahuan ibu nifas tentang perawatan bayi prematur berdasarkan pelatihan.
4. Untuk mengetahui pengetahuan ibu nifas tentang perawatan bayi prematur berdasarkan sumber informasi.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Pendidikan
Sebagai bahan referensi bagi mahasiswa/i tentang perawatan bayi prematur dan sebagai bacaan di perpustakaan Jurusan Keperawatan di Akademi Keperawatan ........
2. Bagi Masyarakat
Untuk menambah pengetahuan masyarakat khususnya ibu tentang perawatan bayi prematur.
3. Bagi Peneliti
Untuk menambah pengetahuan peneliti tentang perawatan bayi prematur dan juga sebagai pengalaman penulis dalam mengaplikasi-kan riset keperawatan.
4. Bagi Praktek Keperawatan Komunitas
Sebagai bahan informasi yang bermanfaat tentang pentingnya perawatan bayi prematur.
Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.130
untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
Gambaran Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Metode Kanguru Pada Bayi Prematur di Klinik
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Metode Kanguru atau perawatan bayi melekat, sangat bermanfaat untuk merawat bayi yang lahir prematur dan lahir dengan berat badan rendah, yang dapat dilakukan selama perawatan di rumah sakit atau pun di rumah.
Metode Kanguru adalah metode perawatan dini dengan sentuhan kulit ke kulit antara ibu dan bayi baru lahir dalam posisi seperti kanguru. Dengan metode ini mampu memenuhi kebutuhan asasi bayi baru lahir prematur dengan menyediakan situasi dan kondisi yang mirip dengan rahim ibu. Sehingga memberi peluang untuk dapat beradaptasi baik dengan dunia luar. Perawatan kanguru ini telah terbukti dapat menghasilkan pengaturan suhu tubuh yang efektif dan lama serta denyut jantung dan pernafasan yang stabil pada bayi prematur. Perawatan kulit ke kulit mendorong bayi untuk mencari puting dan mengisapnya, hal ini mempererat ikatan antara ibu dan bayi serta membantu keberhasilan pemberian ASI (Henderson, 2006).
Seorang bayi yang lahir prematur, umumnya akan diletakkan ke dalam inkobator agar suhu tubuhnya tetap normal serta diberi bantuan oksigen untuk pernafasan. Selain inkubator suhu tubuh bayi dapat dipertahankan kehangatannya dengan metode kanguru. Dulu metode ini dianggap hanya untuk orang miskin karena kalau orang kaya diletakkan di inkubator, tapi berdasarkan pengalaman, hasilnya malah lebih efektif metode kanguru (Rahmi, 2008).
Negara-negara berkembang seperti di Amerika Serikat dan Kanada sangat mendukung keefektifan dan keamanan dari perawatan kulit per kulit (seperti kanguru) untuk bayi prematur karena bayi dapat merasakan kenikmatan kebahagiaan dan perasaan yang sangat luar biasa. Mengingat terbatasnya fasilitas pelayanan kesehatan terutama di pedesaan, maka metode kanguru sangat dianjurkan. Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial telah mengembangkan kebijakan pelayanan neonatal esensial dan metode kanguru sebagai salah satu cara dalam penerapan kebijakan tersebut yang bertujuan untuk pencegahan bayi hipotermi (suhu badan rendah) (Widyastuti, dkk, 2004).
Sebuah studi penerapan metode kanguru di rumah sakit di Ethopia terdapat 67% bayi lahir prematur dan BBLR yang beresiko tinggi menjadi dapat teratasi. Begitu juga dengan India yang menerapkan metode ini lebih menurunkan angka kematian bayi. Misalnya kemampuan bayi meminum ASI (kira-kira 180-200 ml/kg/hr) lalu kenaikan berat badan perlahan paling tidak 20-30 gr atau 1 minggu sekitar 2 ons (Rahmi, 2008).
Perkumpulan Perinatologi Indonesia (Perinasia) dalam seminar orientasi metode kanguru yang diselenggarakan pada Forum Promosi Kesehatan Indonesia, bayi prematur maupun BBLR terutama dibawah 2000 gr terancam kematian yang diakibatkan hipotermi (suhu badan dibawah 36,5°C), di samping asfiksia (kesulitan bernafas) dan infeksi. Diperkirakan kejadian prematur dan BBLR di Indonesia memang makin menurun tetapi masih cukup tinggi yaitu 52% per 100 kelahiran hidup. Berdasarkan perkiraan organisasi kesehatan dunia World Health Organization (WHO) pada tahun 2007, di negara berkembang hampir 70% dari 5 juta kematian neonatal dan 17 dari 25 juta persalinan per tahun melahirkan bayi dengan BBLR (kurang dari 2500 gr) (Imral, 2007).
Penelitian dari Fakultas Kedokteran UNPAD serta Depkes dan Kesos telah meneliti secara umum, bahwa wanita pedesaan menerima metode kanguru. Hampir semua ibu yang melaksanakannya mendapat dukungan dari keluarga. Mereka berpendapat, metode kanguru membuat bayi tenang dan banyak menyusui. Secara tradisional sebagian tindakan dalam metode kanguru telah dikenal masyarakat dengan istilah lokal Bedako (Kabupaten OKU), Makaleppe (Makasar), Kadukui (Bugis) dan Pulau Seram Barat (Maluku). Karena begitu bermanfaatnya metode kanguru, maka seharusnya setiap tenaga kesehatan di Indonesia telah menerapkan metode kanguru (Tahmi, 2007).
Berdasarkan survei yang telah dilakukan di salah satu klinik bersalin di Kota ............ yaitu di Klinik Bersalin R. ............ diperoleh hasil bahwa belum pernah dilakukan penerapan metode ini. Kemungkinan besar hal ini terjadi oleh karena kurangnya informasi tentang hal tersebut.
Sementara berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap bidan di Kota ............ tentang pengetahuan bidan mengenai metode kanguru menggambarkan pengetahuan yang cukup baik. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk meneliti tentang “Gambaran pengetahuan ibu hamil tentang metode kanguru terhadap bayi prematur di Klinik Bersalin R. ............ Tahun 2011”.
B. Perumusan Masalah
Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah Gambaran Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Metode Kanguru Pada Bayi Prematur di Klinik R. ............ Tahun 2011?”.
C. Tujuan Penelitian
C.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Metode Kanguru Pada Bayi Prematur di Klinik R. ............ Tahun 2011.
C.2. Tujuan Khusus
C.2.1. Untuk mengetahui distribusi pengetahuan ibu hamil tentang metode kanguru berdasarkan pendidikan ibu.
C.2.2. Untuk mengetahui distribusi pengetahuan ibu hamil tentang metode kanguru berdasarkan pekerjaan.
C.2.3. Untuk mengetahui distribusi pengetahuan ibu hamil tentang metode kanguru berdasarkan paritas.
C.2.4. Untuk mengetahui distribusi pengetahuan ibu hamil tentang metode kanguru berdasarkan sumber informasi.
D. Manfaat Penelitian
D.1. Bagi Peneliti
Sebagai tambahan pengetahuan dan pengalaman dalam penelitian dan juga sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan di Akademi Kebidanan .............
D.2. Bagi Institusi Pendidikan
Dapat digunakan sebagai bahan bacaan di perpustakaan Akademi Kebidanan ............ dan sebagai masukan bagi mahasiswa yang akan melakukan penelitian selanjutnya.
D.3. Bagi Tempat Penelitian
Sebagai bahan masukan yang bermanfaat bagi petugas kesehatan tentang penerapan metode kanguru pada bayi prematur.
D.4. Bagi Ibu Hamil di Klinik R. ............
Untuk menambah pengetahuan ibu dalam menerapkan metode kanguru pada bayi prematur.
Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.129
untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
Langganan:
Postingan (Atom)